Senin, 14 Februari 2011

Jangan Tinggalkan Aku

Hari ini ku datang dan duduk di sebelah makam bunda tercinta, teringatku tentangnya… Ketika dulu dia nasehatiku dengan mengelus kepala di pangkuannya, menyelimutiku kala ku tertidur.  Dan memberi semangat padaku kalaku ragu.
Malam ini kerinduanku teteskan air mataku. Aku hanya seorang pelajar MA swasta. Orang tuaku memberi nama Az-Zahroh dengan panggilan Aza. Aku anak ketiga dari lima bersaudara, teringatku tentangnya kala terbaring sakit dikamar, karena jantungnya kambuh. Dia memanggilku,
“Za… mau kemana kamu, Nduk?” tanya ibuku kala ku bergegas berangkat mengaji.
“Mau Diniyyah, Bu”, jawabku dengan duduk disamping ranjangnya
“Kapan kamu ujian sekolah dan travelmu itu?”
“Insya Allah 1 minggu lagi sudah tryut, Bu dan travelnya insya Allah 2 bulan lagi”.
“Ya sudah, kamu belajar yang bener, kemanapun kamu melangkah ibu selalu mendo’akan dan mendukungmu asal itu memang baik tapi jika tidak kau tau    sendiri nanti”.
“Iya, Bu. .. Insya Allah”
“Dah, sana berangkat ngaji”
“Iya, Bu. Saya pamit” dengan mencium tangan ibu yang terbaring entah mengapa mataku basah. Ku cepat keluar karena tak mau menangis di depan ibu.
Diniyyahku tak bisa memfkuskan pikiranku pada pelajaran. Entah mengapa ku ingin cepat pulang, setelah semua pelajaran selesai ku langsung ambil sepedaku dan cepat-cepat pulang, betapa terkejutnya aku… Ibuku tidak ada di kamarnya, semua orang juga tidak ada hanya ada adik-adikku. Ternyata ibu dibawa ke RSUD Jombang.
“Ayu dimana Ibu?”
“Ibu dibawa ke RSUD Jombang”
Air mataku menetes begitu saja, melihat kedua adikku. Aku ingin merangkulnya, namun ku tak ingin mereka lebih sedih.
Esok harinya, kakakku pulang. Kutanya kabar ibu.
“Bagaimana ibu, Mas?”
“Ibu masuk UGD, keadaannya lemah. Ya Sudahlah, kamu bagian ngurus rumah. Kalau mau ke sana bilang saja, ya”
Ku hanya bisa menuruti apa yang dikatakan kakakku, karena ku tak tau aku harus bagaimana.
Selama I minggu lebih ibu di RS, kabar yang ku terima ibu di ICU 3 hari. Kemudian sekarang sudah dipindah ke pavilliun Kemuning.
Aku meminta kakakku agar mengajakku kesana, disana aku senang bisa melihat     ibu ku tersenyum.
“Assalamu’alaikum”, salamku pada ibu dan orang-orang disana dan kucium tangan ibu dan bapak.
“Wa’alaikum salam” jawab orang-orang.
“Ini putrinya, Bu?” tanya orang yang di sebelah ranjang ibu.
“Iya… Dia nggak pernah kesini karna dah mulai ujian. Biasa kelas 3.   Dah ngurus rumah, les, diniyah”
“Oh ya, Bu. Dah mau lulus?”
“Ya, Amin…” jawab ibu. “Tadi masak apa, Nduk?”
Dengan tersenyum ku menjawab “Sayur lodeh dan goreng tempe, trus sambal tomat”
“Ya, kalau masak yang biasa saja. Nggak usah aneh-aneh. Gimana ujiane? Kapan travelnya, berapa biayanya”
“Alhamdulillah ujiannya, travelnya 31 Mei biayanya Insya Allah 190.000 ke Borobudur”
“Iya ibu do’akan sukses, Nduk”
“Amin…”
Malam itu ku tak pulang. Aku bermalam disana. Karena besuknya aku harus ujian, aku membawa buku soal-soal UAN yang akkupinjam dari guru Bahasa Indonesiaku.
“Nduk, besuk ujian, sini masuk kolong kamar ibu. Ada ‘sewek’ buat alas belajar”
“Iya, Bu”
Aku masuk dan membuka buku, seorang lelaki anak dari tetangga kamar ibu menyapa.
“Mbak, kuliah dimana… semester berapa?”
Aku hanya tersenyum dan berkata, “Saya masih kelas 3 MTs”
“Owalah, tak kira kuliah. Lha pake’ jas dan bawa buku besar”, jawab lelaki itu.
“Iya… Pak Aza besok ujian, dia pengen nginep. Ya biarlah belajar sebisanya”
“Ya, gitu, Nduk. Jangan malu belajar dimanapun. Semua tempat mengandung ilmu asal kita mau”
“Iya.. Pak makasih”
Jam 04.00 pagi ibu menyuruhku pulang karena harus memasak dan sekolah.



Selang beberapa hari ibu pulang, ibu sudah mulai jalan-jalan, duduk-duduk di   depan rumah dan sudah makan sendiri.
“Nduk, Ibu lapar. Ibu pengen makan masakanmu. Kata Bapakmu kamu masak    lodeh ya?”
“Nggeh, Bu…” ku ambilkan dan inginku menyuapinya tapi ibu tidak mau.                  Ibu makan sampai habis betapa senangnya aku karena itu adalah pertama kali ibu makan masakanku sendiri.
“Dah tak habiskan, Nduk. Dah… kenyang”



Detik-detik menjelang UAN ibu kembali masuk rumah sakit, masuk ke UGD kemudian bolak balik ke ruang ICU, hingga UAN tiba dan UAN telah selesai. Seminggu setelah UAN tepat hari Jum’at. Aku ingin ke RSUD Jombang. Bagaimanapun caranya.
Setelah classmeeting di tempat lesku (Tebuireng) aku minta pada sepupuku untuk kesana.
Setelah sholat Isya’ ku kesana. Tanpa memikirkan Diniyahku yang ada hanya ibu.
Setelah sampai dan ku berdiri dipintu, kulihat ibuku terbaring tak berdaya dengan dua selang infus di kedua tangannya, tabung oksigen dan selang oksigen pada hidungnya, bekas alat yang ditempel pada dadanya.
“Za, sini bacakan Yaasin untuk ibumu”, kata bibi-bibiku dengan kode agar aku      tidak menangis.
Ku sadar ibuku kini tak berdaya, kudatangi dan kucium pipinya, kurasakan tetes air mata yang mengalir dari matanya, ku hanya bisa berkata
“Maafkan aku…”
Bibi-bibiku berkata bahwa sore tadi wali kelasku, Pak Farhan, datang menjenguk  dan menanyakan mengapa Aza tak berkata pada siapapun disekolahan. Jawab keluargaku masalah keluarga, Pak. Kenapa harus dibawa ke sekolahan.



Tengah malam entah mengapa ku bisa tertidur diatas lantai Rumah Sakit tanpa    alas apapun dipangkuan Bibiku, badanku terasa hangat tak seperti biasanya dan ternyata, pukul 02.30 Ibuku meninggalkan kami untuk selamanya, aku hanya menangis dan kakak-kakakku menyalami semua keluarga yang berkumpul dengan berkata “Maafkan segala kesalahan ibuku. Maafkan segala kesalahan ibuku”
Hilang semua harapanku begitu saja. Ku sendiri tak berdaya apapun. Semua   keluarga lebih sering melamun dan mengenang kebiasaan ibu. Dan kini ku telah  lulus MTs dan selesai menjalani travel untuk ujian bahasa inggrisku. Di tanganku tergenggam ijazah dan sertifikat.
Namun ku tak tahu bagaimana seharusnya aku senang, kecewa atau sedih karena orang yang kan kuberi semua itu lebih dulu meninggalkan aku dan semua.
Namun ku ingat semangat ibuku. Untuk tak berhenti hanya karena sesuatu yang   bisa dirubah, jangan pernah berkata ‘Tidak bisa’ selagi belum mencoba karena  setiap perkataan mengandung do’a.
Malam ini biarkan ku tidur dengan tetesan air mata kerinduanku… Ibu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar